fasade-stasiun-palmerah-modern-2015

Stasiun Palmerah (PLM) merupakan sebuah stasiun kereta api yang terletak di jalan Gelora. Stasiun Palmerah melayani perjalanan KRL Commuter Line relasi Tanah abang Serpong, Parung Panjang hingga stasiun Maja. Selain itu stasiun Palmerah juga melayani Kereta Ekonomi Lokal tujuan Rangkas Bitung. Stasiun ini sebelumnya mempunyai 4 jalur kereta api, namun sekarang tinggal 2 jalur. Saat ini stasiun Palmerah sedang dalam proses pembangunan gedung baru yang mempunyai 2 lantai. Dan direncanakan pada tahun 2015, gedung baru stasiun Palmerah sudah dapat dioperasikan.

stasiun-palmerah-gedung-baru-2015

Suasana lantai 2 gedung baru stasiun palmerah

eskalator-stasiun-palmerah-2015-gedung-baru

Fasilitas eskalator pada gedung baru stasiun palmerah

stasiun-palmerah-2015-peron-gedung-baru

Suasana peron stasiun palmerah

fasade-stasiun-palmerah-2015-642

Bangunan lama stasiun palmerah yang masih dipertahankan

Sejarah Stasiun Palmerah

Stasiun Paal Merah, Jalur kereta api Paal Merah mulai beroperasi pada periode 1899 – 1900. Pembukaan jalur kereta api itu adalah pengembangan jalur kereta api atau trem uap dari Batavia menuju Tangerang dengan cabang dari Djembatan Doewa menuju Paal Merah. Jalur trem uap menuju Paal Merah melewati beberapa halte, yaitu halte Gang Chaulan, halte Djati Lama, halte Pekembangan, dan halte akhir Paal Merah. Dari titik koneksi utama sampai titik akhir di halte Paal Merah, jalur trem uap itu membentang sepanjang 8.49 kilo meter.Dengan dibukanya jalur trem uap Paal Merah, arus transportasi dari tengah kota Batavia mulai terhubung menuju pinggiran kota di Kebayoran.

Sejak akhir abad ke-19 itu, kondisi lalu lintas dari pusat kota Batavia menuju Paal Merah sangat ramai dipenuhi para pelawat yang hilir mudik silih berganti. Dari mulai pejalan kaki, pemikul, sado, kargo kereta berkuda, juga kendaraan roda empat terus melewati jalur ini untuk berbagai keperluan, yang terutama perdagangan.Menurut informasi para pedagang Cina, beberapa komoditas yang beredar di wilayah itu antara lain adalah beras, gabah dan padi; ikan kering, minyak tanah, kacang, tepung, mengkudu, bawang, kopi, gula, nila, gambir, babi, minyak, kain cita, kain batik, kayu bakar, sabun, topi jerami, kapur, pasir, batu-batuan, dan semen.

Oleh karena itu untuk melayani kebutuhan transportasi di jalur Batavia – Kebayoran, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Besluit No. 4 tanggal 24 Januari 1891 yang memberikan konsesi untuk pembangunan dan pengoperasian trem uap di Residensi Batavia dengan ketentuan antara lain trem digunakan untuk pengangkutan orang dan barang, lebar spoor 1.067 mili meter, dan pemerintah memberi jaminan modal sebesar 15.000 gulden. Demikianlah kisah tentang jalur kereta api dari Batavia menuju Paal Merah. Salah satu jalur kereta api yang beroperasi pada awal abad ke-20 dan masih bisa kita gunakan hingga saat ini.