st_maguwo_lama-1

Stasiun Maguwo (lama) mulai beroperasi seiring beroperasinya jalan rel rute Klaten – Lempuyangan (30 km) pada tahun 1872 oleh perusahaan kereta api swasta NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg maatschappij). Jalan rel tersebut merupakan bagian dari jalur kereta api rute Solo – Yogyakarta yang dibangun oleh NIS. Bangunan stasiun Maguwo (Lama) yang didirikan pertama kali telah dibongkar pada tahun 1930, kemudian dibangunlah bangunan baru yang dapat dilihat sampai sekarang.

Bangunan berbentuk persegi panjang, memiliki 4 ruang, yaitu ruang PPKA (pimpinan perjalanan kereta api), ruang kepala stasiun yang tergabung denggan loket tiket, ruang dapur dan ruang tunggu penumpang.

Bangunan stasiun yang terbuat dari kayu sebagian besar masih asli. Dinding stasiun Maguwo terbuat dari papan kayu dengan tiang-tiang yang juga terbuat dari kayu. Pada tiang-tiang persegi terdapat hiasan-hiasan geometris dan ukiran sulur kerawang.

st_maguwo_lama-2

Stasiun Maguwo (lama) merupakan saksi pada Agresi Militer ke-2 pemerintah Belanda ke kota Yogyakarta pada tahun 1949. saat itu, stasiun Maguwo menjadi pusat pengangkutan pasukan Belanda setelah terjun payung di Landasan Udara Maguwo (saat ini bernama Bandara Adisucipto). Ketika masih aktif, stasiun ini melayani bongkar muat pupuk Sriwijaya ke gudang pupuk dan melayani angkutan ketel untuk memasok Avtur ke bandara Adisucipto.

st_maguwo_lama-4

kondisi sebelum revitalisasi(kiri) dan setelah revitalisasi (kanan)

Seiring dengan selesainya pembangunan jalan rel ganda rute Solo – Yogyakarta, maka mulai dioperasionalkan stasiun Maguwo (baru) pada tahun 2008 yang terintegrasi dengan bandara Adisucipto. Stasiun Maguwo (baru) berada kurang lebih 300 meter ke arah timur dari stasiun Maguwo (lama). Stasiun Maguwo (baru) ini difungsikan menjadi stasiun yang melayani penumpang dari/ke Bandara Adisucipto, sekaligus menjadi titik sistem transportasi terpadu di kota Yogyakarta. Seiring dengan diaktifkannya Stasiun Maguwo (baru) pada tahun 2008 maka stasiun Maguwo (lama) dinonaktifkan.

st_maguwo_lama-3

kondisi sebelum revitalisasi(kiri) dan setelah revitalisasi (kanan)

Karena memiliki nilai sejarah, maka bangunan stasiun Maguwo (lama) masuk ke dalam daftar bangunan cagar budaya. Pada tahun 2010, Pusat Pelestarian Benda dan Bangunan – PT Kereta Api Indonesia (persero) melakukan perawatan dengan cara memperbaharui warna cat sehingga tampak lebih bersih dan rapi. Bangunan yang sudah lama tidak berfungsi ini direncanakan akan dihidupkan kembali agar bermanfaat bagi masyarakat luas. Stasiun Maguwo (lama) akan dikembangkan menjadi gallery dan taman bacaan dengan melakukan kerjasama dengan pihak PT Mustika Ratu Tbk, Pusat Studi dan Konservasi – Universitas Gadjah Mada serta Railfans Yogyakarta. Saat ini baru dilakukan kesepakatan dengan PT Mustika Ratu Tbk dan pembuatan desain untuk gerbong kayu NR. Gerbong kayu NR yang mangkrak di Balai Yasa Yogyakarta akan diperbaiki untuk dipajang di stasiun Maguwo (lama).