Lokomotif-B22

Selain kaya dengan sumber daya alam, seperti kayu jati, kawasan pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur juga terdapat minyak bumi dan gas bumi, baik di Cepu (Jawa Tengah) maupun di Bojonegoro (Jawa Timur). Untuk mendukung percepatan arus perdagangan hasil bumi dan hasil industri perkebunan kemudian dibangun jalan rel. Setelah perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg maatschappij (NIS) berhasil membangun jalur kereta api rute Semarang – Gundih – Solo – Yogyakarta (166 km) pada tahun 1867 – 1872.

NIS kemudian melanjutkan pembangunan jalur kereta api rute Surabaya Pasar Turi – Babat (69 km) selesai dibangun pada tahun 1900, rute Babat – Bojonegoro – Cepu (72 km) selesai dibangun pada tahun 1903 dan rute Gundih – Gambringan – Cepu (89 km) selesai dibangun pada tahun 1902. Jalur kereta api ini telah menjadi jalur perdagangan  penting, yaitu lembah Bengawan Solo yang terletak di Jawa Timur bagian utara. NIS mendatangkan lokomotif uap B22 dari pabrik Hartmann (Jerman) sebanyak 20 lokomotif pada tahun 1989 – 1901. Lokomotif ini dipergunakan untuk menarik rangkaian kereta yang mengangkut hasil bumi, hasil perkebunan, hasil tambang atau penumpang.

Setelah Perang Dunia II berakhir, 1 lokomotif B22 dipindah dari Jawa ke Sumatra Selatan dan sisanya tersebar di Solo, Gundih, Kudus dan Purwodadi.

Lokomotif ini memiliki dua roda penggerak (susunan roda 0-4-2T) dengan dua silinder compound. Pada lokomotif uap dengan dua silinder compound, uap dari silinder tekanan tinggi disalurkan ke silinder tekanan rendah yang lebih besar volumenya dari silinder tekanan tinggi (agar uap dapat berkembang memuai lebih lanjut dan menghasilkan tenaga penggerak lagi). Baru dari silinder tekanan rendah uap yang sudah terpakai dibuang melalui cerobong. Meskipun lokomotif uap dengan dua silinder compound dapat memberikan efisiensi yang lebih tinggi namun perawatannya lebih rumit. Setelah ditemukannya superheater maka jenis lokomotif uap seperti ini tidak pernah dibuat lagi.

Lokomotif B22 memiliki panjang 7850 mm dan berat 25,1 ton. Lokomotif B22 dapat melaju hingga kecepatan 55 km/jam. Lokomotif ini menggunakan bahan bakar kayu jati atau batubara.

Dari 20 lokomotif B22, saat ini tersisa 3 buah yaitu B22 07, B22 09 dan B22 20. B22 07 (mulai operasional tahun 1898) di Bumi Perkemahan Cibubur (Jakarta), B22 09 (mulai operasional tahun 1898) dipajang di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah (Jakarta) dan B22 20 (mulai operasional tahun 1900) dipajang di Museum Ambarawa (Jawa Tengah).