Divisi Regional 3 Palembang

Sejarah Jalur Kereta Api Sumatera Selatan

Pembangunan rel kereta di Sumatera Selatan dilaksanakan pada tahun 1914, tujuan utama  pada awalnya untuk angkutan barang, terutama hasil tambang dan perkebunan. Pembangunan rel pertama dilakukan dari Kertapati, Palembang menuju Prabumulih sepanjang 78 km, kemudian dari Prabumulih mengarah ke selatan hingga akhirnya bertemu dengan rel yang dibangun dari Tanjungkarang. Prabumulih merupakan titik persimpangan ke arah selatan dan barat. Jalur kereta api dari Prabumulih ke arah selatan menuju Baturaja dan Martapura; sedangkan ke arah barat menuju Muarenim, Lahat, Tebing Tinggi dan Lubuk Linggau. Secara keseluruhan jalur ke selatan selesai pada tahun 1924 dan jalur ke barat selesai pada tahun 1933.

Rel Muaraenim – Lahat dibangun pada tanggal 21 April 1924  oleh BOW (Burgerlijke Openbare Werken, Dinas PU Hindia Belanda) yang kemudian dikelola oleh perusahaan Kereta Api Hindia Belanda ZSS (Zuid Soematera Spoorwegen). ZSS merupakan bagian dari Staatsspoor- en Tramwegen in Nederlandsch Indië  atau SS en Tr. (sebelumnya bernama SS (Staatspoorwegen) yang berada di bawah BOW). Dengan bertambahnya armada dan tingkat operasional yang tinggi, maka dibangunlah Balai Yasa Lahat yang mulai dioperasikan tahun 1931 dengan nama Werkplaats. Pada waktu berdiri, bengkel ini melakukan Perawatan Gerbong Barang, Kereta Kayu dan Lok Uap. Kemudian pada tahun 1952 melakukan Perawatan Kereta Baja buatan Beijnes Beverwijk-Holandhingga pada tahun1957 mulai melaksanakan Perawatan Lok Diesel Elektrik (BB – 200).

Pengangkutan hasil tambang di Sumatera Selatan yang menggunakan kereta api adalah batubara. Sejalan dengan dimulainya eksplorasi batubara di Bukit Asam, dibangun pula jalur kereta api antara Muaraenim dan Tanjungenim yang ditujukan untuk mengangkut batubara menuju pelabuhan batubara yang berada di Palembang maupun Panjang, Lampung.