Hebatnya Stasiun KA Kuno, Dilengkapi Kanal Sendiri

151 Tahun Sepur Indonesia

Deddy S, CNN Indonesia Rabu, 17/06/2015 10:27 WIB

Jakarta, CNN Indonesia — Nyaris tak ada yang tersisa dari Stasiun Samarang NIS yang mulai dibangun pada 17 Juni 1864. Tapi kalau membandingkan dengan dokumentasi sejarah, stasiun yang mempelopori lahirnya transportasi kereta api di Indonesia ini dibangun dengan luar biasa pada zamannya.

Menurut cerita Ella Ubaidi, Executive Vice President Conservation, Design Architecture and Station Maintenance PT KAI (Persero), stasiun dan jalur kereta api paling pertama di Indonesia dibangun oleh perusahaan swasta Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij (NIS).

Jalur pertama ini melintas dari Pelabuhan Semarang (Havenstad Semarang) menuju Tangoeng, sebuah desa perkebunan di Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah. Panjang jalur ini 25 km dengan lebar sepur 1.435 milimeter. “Jalur tersebut diresmikan 10 Agustus 1867,” katanya kepada CNN Indonesia.

Stasiun Samarang NIS adalah komplek bangunan berbentuk U, terdiri dari stasiun penumpang, stasiun barang untuk menyimpan komoditas, dan stasiun dalam pelabuhan untuk loading barang ke kapal. Stasiun ini juga dilengkapi balai yasa (bengkel kereta) dan Rumah Pejabat kereta Api.

Tjahjono Rahardjo, aktivis dari Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Semarang, mengatakan stasiun itu dulu memiliki kanal yang muat dilewati perahu. Kanal ini berfungsi sebagai jalur pengangkutan komoditas langsung dari pelabuhan ke stasiun.

Sedangkan Stasiun Tangoeng, kata Ella, diubah pada tahun 1910. Stasiun itu saat ini hanya menjadi stasiun pengawas keamanan perjalanan kereta api dan telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Stasiun Tangoeng, stasiun yang termasuk dalam sejarah pertama kereta api di Indonesia. Terhubung ke Stasiun Samarang NIS dengan rel sepanjang 26 kilometer. (Dok. Museum Kereta Api Semarang/Repro/Deddy Sinaga)

Stasiun Tangoeng, stasiun yang termasuk dalam sejarah pertama kereta api di Indonesia. Terhubung ke Stasiun Samarang NIS dengan rel sepanjang 26 kilometer. (Dok. Museum Kereta Api Semarang/Repro/Deddy Sinaga)

Dari Tangoeng, jalur kemudian dilanjutkan ke Kedungjati dan Tuntang, lalu ke Ambarawa, ke Secang, sampai ke Magelang. Pada 1970 jalur Kedungjati sampai ke Magelang ini ditutup. Pada 2011 PT KAI mengaktifkan jalur Tuntang-Ambarawa untuk kereta wisata sejarah. Tahun ini dimulai pula proses aktivasi jalur Kedungjati – Tuntang.

Setelah meneruskan jalur kereta api dari Semarang ke Ambarawa kemudian ke Surakarta, pembangunan rel kereta dilakukan di mana-mana di Indonesia. Data menunjukkan, pembangunan rel kereta api dalam kurun waktu 1864-1900 bertumbuh drastis.

Pada 1867 panjang rel hanya 25 kilometer. Lalu pada 1870 sudah menjadi 110 km. Satu dekade kemudian, pembangunan rel kereta api terus berkembang dan mencapai 405 km. Lalu pada 1890 perkembangannya amat drastis dengan total panjangnya 1.427 kilometer. Begitu juga pada 1900, panjang rel di Indonesia sudah mencapai 3.338 kilometer.

Pada 1938, panjang total rel kereta api di Indonesia sudah mencapai 6.811 km. Tapi pada 1950 terjadi penurunan jadi 5.910 km, diduga karena dibongkar pada masa pendudukan Jepang. Di luar Jawa, pembangunan rel kereta api juga dilakukan di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), dan Sulawesi (1922).

Sumber :http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20150617094054-92-60491/hebatnya-stasiun-ka-kuno-dilengkapi-kanal-sendiri/