Lawang Sewu, Si Gedung ‘Berhantu’ dalam Sejarah Kereta Api

Semarang, CNN Indonesia — Lawang Sewu, gedung ‘seribu’ pintu, pernah menjadi ikon gedung berhantu. Tayangan uji nyali dan kemunculan sosok seperti hantu perempuan yang menyebar di jejaring sosial, cukup untuk menciptakan kesan menakutkan.

Tapi siapa mengira, gedung yang dibangun pada 1904 dan selesai pada 1907 ini sebetulnya bagian dari sejarah kereta api di Indonesia. Inilah gedung yang dibangun oleh perusahaan swasta Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), yang pertama kali mengoperasikan kereta api di Hindia Belanda, untuk dijadikan kantornya.

Lihat Juga : Melacak Misteri Stasiun Kereta Api Terkuno di Indonesia

CNN Indonesia menyambangi gedung itu pada Selasa (16/6). Di halaman depannya ada sebuah lokomotif tua. Gedung ini memang sudah bersalin rupa menjadi museum kereta api.

Di gerbang masuk ada pos pembelian tiket masuk. Harganya Rp 10 ribu per orang. Kalau ingin ditemani pemandu, tambahkan Rp 30 ribu. Pagi itu, CNN Indonesia ditemani pemandu bernama Arif.

Gedung Lawang Sewu yang sudah berubah menjadi museum kereta api. (CNN Indonesia/Deddy Sinaga)

Gedung Lawang Sewu yang sudah berubah menjadi museum kereta api. (CNN Indonesia/Deddy Sinaga)

Spot pertama yang diperlihatkan Arif pagi itu adalah mozaik kaca patri warna-warni yang menjadi daya tarik Lawang Sewu saat ini. Kaca ini memiliki beberapa ornamen yang punya cerita masing-masing. Di antaranya soal Semarang dan Batavia, dan gambar roda terbang yang pernah dijadikan lambang PT Kereta Api.

Dari sana, kami bergerak menuju ruang museum sejarah kereta api. Di sini dipamerkan berbagai artefak, foto, duplikat lokomotif kuno, dan kisah mengenai perkeretaapian di Indonesia.

Lihat juga :  Stasiun Terkuno Indonesia, ‘Digerogoti’ Rumah-Rumah Penduduk

Di seberang gedung museum ini ada museum khusus yang menceritakan riwayat Lawang Sewu serta proses restorasi yang dilakukan oleh PT KAI sejak 2011. “Dulu bangunan ini rusak di sana-sini,” kata Arif.

Spot berikutnya adalah bangunan pompa air di dekat gerbang masuk. Menurut catatan yang ada di bangunan itu, pompa air itu menyedot air dari sumur yang kedalamannya konon mencapai 1.000 meter.

Alasannya Belanda menggali sampai sedalam itu karena air tanah di Semarang memang kurang bagus pada kedalaman rendah. Sebab kota ini berada tepat di tepi laut.

Spot terakhir adalah bangunan kosong yang memiliki area bawah tanah. Di area inilah, kata Arif, dulu pernah dijadikan syuting uji nyali yang bikin heboh jejaring maya.

Tapi area bawah tanah ini tertutup untuk umum karena restorasinya masih berlangsung. Kami masih bisa melihat pintu masuk ke ruang bawah tanah, melalui sebuah jendela di bangunan itu. Aroma lembab dan dingin langsung terasa saat berada dekat pintu masuk itu. Selebihnya, Lawang Sewu sudah kehilangan ‘sengat’ menakutkannya.

Sumber : http://www.cnnindonesia.com