Napak Tilas Jalur Tuntang – Ambarawa – Jambu – Bedono

Jalur kereta api Tuntang – Ambarawa – Jambu – Bedono merupakan jalur kereta api yang memiliki nilai penting dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia. Karena jalur ini termasuk jalur pertama yang dibangun untuk kepentingan militer Pemerintahan Hindia Belanda. Di jalur ini juga terdapat Museum Kereta Api Indonesia. Perjalanan dimulai dari Stasiun Tuntang dengan menggunakan lokomotif diesel atau lokomotif uap. Perjalanan akan melewati Danau Rawapening yang indah, juga dapat menikmati keindahan Gunung Telomoyo, Gunung Ungaran dan Gunung Merbabu. Jalur Tuntang – Ambarawa dapat ditempuh dalam waktu 30 menit.

 Setibanya di Stasiun Ambarawa, pengunjung dapat mengunjungi Museum Kereta Api Indonesia. Stasiun Kereta Api Ambarawa pada awalnya adalah sebuah stasiun yang bernama Stasiun Willem I, dibangun oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tanggal 21 Mei 1873. Pada masa pengoperasiannya di masa kolonialisme Belanda, Stasiun Willem I digunakan sebagai sarana transportasi militer di sekitar Jawa Tengah. Pada tanggal 8 April 1976 Gubernur Jawa Tengah Supardjo Rustam mencanangkan sekaligus meresmikan Stasiun Kereta Api Ambarawa sebagai Museum Kereta Api. Museum ini memiliki keindahan arsitektur bangunan stasiun dan dilengkapi oleh koleksi lokomotif dan koleksi benda terkait dengan operasional kereta api.

 Setelah dari Stasiun Ambarawa, pengunjung dapat kembali melanjutkan perjalanan dengan kereta api ke Stasiun Jambu. Di Stasiun Jambu, lokomotif akan diputar yang asalnya menarik rangkaian menjadi pendorong rangkaian kereta api. Rel menuju Stasiun Bedono memiliki keistimewaan tersendiri yaitu terdapatnya rel khusus untuk kereta dengan roda bergerigi yang digunakan untuk melintasi jalur perbukitan yang menanjak. Setibanya di Stasiun Bedono penumpang dipersilahkan untuk melihat Stasiun Bedono dan beristirahat sejenak sambil menunggu kereta api disiapkan untuk kembali lagi ke Ambarawa.