PT Kereta Api Menata Ulang Benda Cagar Budaya

TEMPO.CO, Yogyakarta – PT Kereta Api Indonesia mulai menata ulang dan merenovasi sejumlah bangunan dan benda cagar budaya, di antaranya stasiun tua dan museum kereta api, sebagai langkah pelestarian peninggalan sejarah.

Kepala Subbidang Teknis Non-Bangunan Pusat Pelestarian dan Benda Bersejarah PT KAI, Trenggono Adi, menuturkan langkah pelestarianheritage ini menjadi satu misi PT KAI, selain pelayanan transportasi. Hal ini dimulai dengan pembentukan Unit Pelestarian dan Benda Bersejarah PT KAI pada 2009.

“Unit ini dibentuk untuk memfokuskan kerja bidang pelestarian cagar budaya, seperti museum hingga stasiun-stasiun tua yang sudah tak terpakai lagi agar tetap bisa memberi informasi sejarah bagi generasi selanjutnya,” kata Trenggono di sela menghadiri pembukaan Museum Diorama Benteng Vredeburg Yogyakarta, 4 April 2012.

Salah satu program besar yang tengah digarap Unit Pelestarian dan Benda Bersejarah PT KAI saat ini adalah renovasi Museum Kereta Api Ambarawa di Jawa Tengah. Museum itu kini direnovasi dan diproyeksikan dapat menjadi museum kereta api terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Saat ini PT KAI tengah melakukan pengumpulan dan inventarisasi benda cagar budaya untuk museum tersebut yang targetnya selesai 2013. “Museum Ambarawa selama ini hanya difungsikan sebagai tempat penyimpanan kereta api. Padahal, di situ ada cukup banyak koleksi lokomotif uap,” kata dia.

Impian menjadikan kawasan museum Ambarawa sebagai museum terbesar di Asia Tenggara juga dilatarbelakangi sisi historis bahwa Ambarawa dulu pernah menjadi pusat militer dan perkebunan di era Belanda.

Selain Museum Ambarawa, PT KAI juga telah melakukan renovasi Stasiun Kereta Api Tanjung Priok sehingga bangunannya sudah menjadi lebih bagus meskipun secara lokasi diakui kurang begitu mendukung. Di samping itu juga telah dilakukan renovasi Stasiun Kereta Api Lawang Sewu Semarang.

Benda bersejarah pun tak luput dari rencana pelstarian PT. KAI. Misalnya, saat ini tengah dilakukan upaya untuk bisa mengoperasionalkan lagi lokomotif uap (lok uap). Lok uap saat ini ada empat buah, yakni dua unit di Ambarawa, satu unit di Sawahlunto, dan satu unit Jaladara di Solo.

Selain museum, PT. KAI pun telah merancang rencana renovasi stasiun-stasiun kecil tua yang sudah tidak dipakai lagi. Stasiun ini rata-rata telah berusia di atas 50 tahun dan dinilai mempunyai nilai sejarah serta bentuk bangunan yang unik. Misalnya, Stasiun Tanggung yang merupakan jalur kereta api pertama di Indonesia yang terletak di Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah. Selain itu, ada juga Stasiun Maguwo lama di Yogyakarta, serta bengkel kereta api Pengok di Yogyakarta.

Berkaitan dengan anggaran untuk pelestarian benda bersejarah ini, PT KAI sangat menggantungkan dari perusahaan karena angggaran dari pemerintah tidak ada. “Tahun ini anggaran untuk perawatan heritagedialokasikan Rp 4 miliar,” kata dia. Tahun lalu, anggaran terbesar digunakan untuk renovasi Stasiun Lawang Sewu dan Museum Ambarawa yang menelan biaya tak kurang Rp 5 miliar.

Sumber: Tempo
Penulis: Pribadi Wicaksono
Dimuat: 5 April 2012