Observasi Stasiun Non Aktif Kedundang

Eksisting Stasiun Kedundang.
 
 

LAPORAN OBSERVASI

STASIUN KERETA API NON AKTIF 

KEDUNDANG

Disusun Oleh :

HARI KURNIAWAN

JAVANESCHE SPOORWEGEN OBSERVEUR

YOGYAKARTA

KEDUNDANG I-2013 

Bab VIII

Observasi Stasiun Kereta Api Non Aktif

Stasiun Kedundang

Stasiun Kedundang (Kode : KDG, elevasi : ± 11 mdpl) berada pada wilayah PT.KAI (Persero) Daerah Operasi 6 Yogyakarta dan berlokasi di Desa Kedundang, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Stasiun Kedundang yang berada di lintas antara Stasiun Wates dengan Stasiun Wojo ini resmi di non-aktifkan pada tanggal 21 Juli 2007, dimaksudkan untuk efisiensi setelah dibukanya jalur ganda lintas Yogyakarta-Kutoarjo, dikarenakan fungsi awalnya hanya sebagai stasiun persilangan antara kereta api sewaktu masih menggunakan jalur rel tunggal. Dahulunya diantara Stasiun Kedundang dengan Stasiun Wates juga terdapat Halte Pakualaman yang berlokasi di Dusun Siluwok, Desa Tawangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo.

kedundang_2
Eksisting Stasiun Kedundang.
 

Saat Agresi Militer II Belanda tahun 1949, Halte Pakualaman yang ceritanya serupa dengan  Stasiun Kalimenur, juga terkena serangan bom (sehingga hancur).  Namun ironisnya tidak direstorasi kembali oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKA-RI), sehingga hanya dibiarkan tersisa puing-puingnya saja dan sekarang sudah tak berbekas lagi akibat bekas areanya telah digunakan sebagai jalur rel ganda Yogyakarta-Kutoarjo. Kenangan singkat tentang Stasiun Kedundang, dahulunya pernah sebagai stasiun untuk pengiriman logistik bagi para tentara pejuang di Yogyakarta dan Purworejo. Para penumpang waktu itu membawa hasil kebun/ pertanian (seperti : beras, kelapa, pisang, sayur, jagung) dan ayam.

Stasiun Kedundang memiliki arsitektur yang mirip dengan Stasiun Sukoharjo, Stasiun Winongo, Stasiun Palbapang dan Stasiun Bantul, yaitu ciri khas desain atap dan lubang ventilasi udara yang berbentuk bulat. Stasiun ini diperkirakan juga dibangun saat pembangunan jalur rel Yogyakarta-Maos-Cilacap pada kurun waktu tahun 1876-1887 oleh perusahaan kereta api negara pemerintah (kolonial) Hindia  Belanda atau Staats-spoorwegen (SS). Stasiun Kedundang yang bercat putih biru bercorak khas era Perumka ini memiliki beberapa ruangan, seperti ruang tunggu penumpang (ironisnya kondisi dinding dicorat-coret), ruang pelayanan tiket, ruang kepala stasiun dan ruang PPKA (Pemimpin Perjalanan Kereta Api) yang nampaknya dibangun belakangan  (karena bentuk bangunannya berbeda dengan bentuk asli dari stasiun ini).

Bahkan kondisi jendela, pintu (kusennya sudah dibongkar/ dijebol paksa), lantai dan eternit (ruang tunggu) yang mulai rusak. Hal ini dikarenakan sudah tidak ada yang menjaga/ merawat untuk membersihkan (seperti, Mbah Bedjo di Stasiun Kalasan). Masih terdapat juga, toilet, sumur, ruang sintelis/  (dikarenakan sudah memakai sistem persinyalan elektrik) di sebelah selatan bangunan stasiun dan dua rumah dinas DKA (disebelah timur stasiun). Pada sebelah barat stasiun (atau ± 100 m) adalah Palang Jaga Lintasan (PJL) 668 Kaligintung. Papan nama stasiun ”Kedundang +11 m” juga masih terpasang (bercat biru merah era Perumka).