Pengembangan Sumber Daya Lawang Sewu

Konsep tentang pelestarian dan pemanfaatan benda cagar budaya merupakan perpaduan antara teori ilmu kebudayaan, ilmu manajemen, ilmu teknik sipil, ilmu arsitektur, metodologi pemanfaatan benda cagar budaya serta melibatkan praktisi yang bergelut di bidang sumber daya yang terkandung dalam setiap benda cagar budaya.

Protes masyarakat pada sebuah negara yang mengakui warisan budaya Indonesia sebagai miliknya dapat disimpulkan bahwa kesadaran masyarakat tentang warisan budaya mulai tampak, namun di sisi lain di negara ini adalah keunggulan warisan budaya tersebut tidak dilandasi dengan kaidah pelestarian yang memadai. Salah satu contoh berapa banyak masyarakat yang berkenan berkunjung ke museum batik atau museum wayang yang notabene merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang “adi luhung”.

Dalam permasalahan lain ambil contoh permasalahan Gedung Lawang Sewu Semarang sebagai sebuah rencana besar Pusat Pelestarian Benda Dan Bangunan PT. Kereta Api Indonesia (Persero), – karena setidaknya dalam kurun satu dasawarsa terakhir – Indonesia disemarakkan dengan dinamika warisan budaya bahkan telah menjadi topik umum di masyarakat tentang pengakuan warisan budaya Indonesia oleh negara lain.

Sambutan gembira dan optimis seiring terbentuknya unit baru di PT. Kereta Api Indonesia (Persero), yakni Pusat Pelestarian Benda Dan Bangunan. Harapan besar bahwa unit ini akan mampu sebagai generator baru (power house) dalam tubuh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yang mampu mengantarkan jajaran generasi berikut tampil sebagai lokomotif perusahaan yang peka terhadap masalah sosial-ekonomi dalam suatu sistem budaya masyarakat Indonesia.

Gedung Lawang Sewu Semarang jika bertolak dari tahun mulai digunakan (1907) telah berusia lebih dari satu abad. Memiliki sejarah panjang dan telah cukup banyak ditulis baik dalam media cetak atau internet dan banyak dibahas dalam setiap event-event yang terkait benda cagar budaya atau pariwisata. Masalah yang timbul adalah dalam tahap konservasi, preservasi dan revitalisasi yang secara teknis sudah akan dimulai, tidak dengan segera mempersiapkan konsep besar yang sungguh bertaut erat dengan problematika bangsa. Sehingga yang menjadi kekhawatiran adalah proses kegiatan yang dilakukan terhadap Gedung Lawang Sewu hanya merupakan kegiatan fisik dan terkesan “mempercantik perempuan tua” tanpa ada nilai tambah dan tidak mampu menjadi sebuah sumberdaya yang mampu mendatangkan manfaat bagi perusahaan.

Semua pihak diharapkan memberikan sumbangsih yang konkrit dan bertahan dalam jangka yang panjang. Itulah alasan mengapa seluruh masyarakat Indonesia khususnya masyarakat kota Semarang menaruh harapan yang besar kepada Pusat Pelestarian Benda Dan Bangunan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dalam mengelola Gedung Lawang Sewu Semarang.

Pengembangan Sumber Daya Budaya (Culture Resource Development) di Indonesia masih sangat lemah. Kasus lemahnya pengembangan dan pemanfaatan benda cagar budaya yang ada di dalam sebuah situs maupun di dalam sebuah museum menjadi gambaran konkrit yang hingga saat ini masih jelas terlihat. Untuk itu ketidakmampuan masyarakat harus dikembangkan melalui suatu kegiatan dan kreatifitas yang tinggi sehingga warisan budaya mampu menjadi sumber daya yang sungguh bisa menyelesaikan permasalahan bangsa tentang pelestarian warisan budaya dan secara bertahap membuat perbaikan.

Gedung Lawang Sewu Semarang adalah sebuah warisan budaya yang secara gamblang dan jelas-jelas memiliki potensi dan mampu sebagai kiblat percontohan pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya yang pastinya akan menjadi sorotan berbagai pihak yang berkepentingan dalam dunia pelestarian benda cagar budaya. Pusat Pelestarian Benda Dan Bangunan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) akan menjadi pelopor tentang bagaimana membuat arah baru peradaban manusia Indonesia dalam memaknai warisan budaya.

Proses yang dilakukan melalui perjuangan dan usaha yang keras dari berbagai pihak dalam melakukan pelestarian Gedung Lawang Sewu akan menjadi mubazir dan sia-sia ketika dalam proses perjalanannya dibumbui dan dikotori dengan korupsi, kolusi dan nepostisme. Egoisme yang timbul dari kalangan pemimpin dan pejabat baik di lingkungan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) atau kalangan Pemerintah Daerah dan/atau Pusat dalam bentuk melakukan intervensi terhadap perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan kembali Gedung Lawang Sewu merupakan pemicu dan menjadi faktor terbesar gagalnya sebuah “grand design” bangsa ini.

Sudah selayaknya seluruh lapisan masyarakat ikut membantu terlaksananya sebuah rencana besar bangsa ini sekaligus menjadi alat kontrol dan motivator bagi manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dan aparatur Pemerintah Daerah / Pusat agar pelaksanaan “grand design” bangsa ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.