Ella Ubaidi, Sang Penyelamat Bangunan Tua

Kecintaannya pada bangunan-bangunan tua membawa Ella menjadi aktivis lingkungan dan pelestarian bangunan bersejarah di Indonesia. Aktivitasnya lalu dilirik PT Kereta Api Indonesia (KAI), yang kemudian mendaulat Ella sebagai Kepala Pusat Pelestarian Benda dan Aset Bersejarah PT KAI.

Bagaimana ceritanya bisa berkecimpung di bidang penyelamatan bangunan tua?

Latar belakang pendidikan saya adalah Bisnis Manajemen, tapi saya sangat tertarik dan peduli dalam melestarikan lingkungan dan bangunan-bangunan tua. Saya kemudian memperdalam ilmu Urban Conservation pada tahun 1998 di Los Angeles, Amerika Serikat.

Ayah saya dulu kantornya di Kali Besar, Kota, Jakarta Pusat. Jadi sejak kecil sudah terbiasa melihat bangunan tua, bahkan belakangan saya mengadopsi satu bangunan tua di kawasan itu. Saya berpikir, mengapa Indonesia kalah dengan negara lain yang bisa menggarap kawasan bangunan tua jadi menarik. Nah, karena di Indonesia belum ada yang seperti itu, saya coba memperdalam ilmu bisnis dan heritage , mengelola kawasan lama untuk dijadikan kawasan industri baru.

Apa yang dilakukan ketika kembali ke Indonesia?

Tahun 2002 saya kembali ke Indonesia dan terjun aktif di kawasan Kota Tua Jakarta. Di awal aktivitas saya ketika itu, saya bergabung dalam komunitas penyelamat kawasan kota tua bernama Jakarta Old Town Kotaku, diketuai Ibu Miranda Gultom. Kami kemudian membuat kampanye bekerjasama dengan Pemda DKI Jakarta.

Bicara mengenai bangunan peninggalan kolonial, memang tidak termasuk khazanah kearifan lokal. Bangunan-bangunan ini buatan Pemerintahan Kolonial Belanda. Apa yang ditinggalkan mereka ini termasuk mahakarya seni. Mahakarya seni itulah yang harus dilestarikan, bukan sejarahnya yang dilestarikan. Data sejarah mulai dibangunnya kapan, siapa arsiteknya, dan sebagainya itu hanya sebagai referensi saja.

Memang, sejarah sebagai negara yang pernah dijajah itu pahit, tapi enggak perlu dilihat ke situ. Di zaman kerajaan saja, raja enggak mau berbaur dengan rakyat jelata. Saya ada data-datanya, tapi jangan dilihat aspek itunya.

Hambatan apa yang ditemui selama menekuni kegiatan ini?

Kepemilikan bangunan dan tanah di kawasan itu sangat tidak jelas. Bangunan yang satu dengan bangunan lainnya dimiliki oleh beberapa orang atau badan yang berbeda-beda, sehingga langkah revitalisasi jadi sedikit sulit.

Untuk itu, kami sampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta yang ketika itu Bapak Sutiyoso, untuk segera membuat langkah pastit. Pemerintah seharusnya membuat semacam Badan Usaha Milik Daerah yang bisa bekerjasama dengan pihak swasta untuk membebaskan kawasan Kota Tua. Dengan begitu, pemilik satu kawasan adalah satu badan.

Secara teori, unit khusus itu nanti kata kuncinyanya adalah bisnis. Pemprov DKI tinggal menyewakan asetnya berupa infrastruktur. Bila kata kuncinya antropologi atau arkeologi, konteksnya berbeda. Kita lihat, aspek pengembangan usaha secara ekonominya bagaimana, secara sosial bagaimana. Baru kemudian dimasukan aspek cagar budaya setelah investornya jelas.

Lha, ini investor belum jelas saja sudah ribut. Bangunan enggak boleh dibongkar, enggak boleh digituinatau diginiin . Sementara apa yang terjadi sekarang di Kota Tua saya katakan sebagai massive failure.Apa yang terjadi kini di Kota Tua tidak mengembangkan aspek ekonomi tapi hanya aspek sosialnya. Orang kumpul di sana banyak, tapi enggak jadi duit. Enggak ada pemasukan buat daerah, istilahnya bukan wilayah yang memiliki ekonomi bergulir.

Menurut Anda ekonomi bergulir yang harusnya ada di kawasan Kota Tua seperti apa?

Ekonomi bergulir yang saya maksud adalah bangunan di kawasan itu penuh dengan toko, restoran, hotel dan sebagainya. Kompleks yang lifeable , lebih mirip mal. Nah, untuk memasukkan konsep mal dalam kawasan itulah yang enggak mudah karena seperti saya sebut sebelumnya, kepemilikan gedungnya enggak jelas siapa.

Untuk membangunnya perlu ada single authority berbentuk badan usaha yang menjalankan semuanya dengan konsep development plan . Jika sudah ada konsepnya, baru dipikirkan secara detail apa saja yang bisa dibongkar atau diubah. Sementara yang ada sekarang, enggak demikian. Yang ada, sudah ribut detailnya dulu, akhirnya investor dan developer jadi malas. Itu makanya Indonesia kalah dengan Singapura dan Malaka.

Sebenarnya apa keuntungan merevitalisasi bangunan tua ini?

Hari gini , harus bisa menciptakan ekonomi baru, produk baru yang halal. Singapura dan Malaka pintar membaca peluang dan menciptakannya. Padahal apa yang kita punya lebih bagus dari mereka.

Tapi jika memang sudah puas dengan apa yang ada sekarang di kawasan Kota Tua, ya, sudah. Itulah ekonomi yang bisa diciptakan, enggak jauh beda seperti Binaria di tahun 1970-an. Apa yang saya temukan selama itu berbeda sekali dengan apa yang saya temukan sekarang setelah bergabung dengan PT KAI. Sebab, bangunan-bangunannya adalah milik PT KAI, proyek revitalisasinya menjadi lebih mudah.

Oh ya, sejak kapan bergabung dengan Pusat Pelestarian Benda dan Aset Bersejarah PT KAI?

Tahun 2009 PT KAI membuka kesempatan bagi saya untuk membantu melestarikan benda dan aset bersejarah. Langkah pertama yang saya lakukan adalah melakukan invetarisasi, identifikasi, konservasi, renovasi, sosialisasi dan penggalian kembali sejarah, termasuk nilai-nilai yang terkandung di dalam benda atau bangunan. Kami bekerjasama dengan Pemerintah Belanda, sehingga banyak terbantu soal ketersediaan bahan-bahan riset.

PT KAI adalah sebuah industri lama yang dibangun sejak 1865. Apa yang kita lihat saat ini, contohnya seperti stasiun dan track dibuat sejak tahun abad ke 18. Mengingat itu penting, sayang jika tidak dilestarikan. Langkah awal yang dilakukan adalah penataan stasiun agar bersih, sehingga lebih enak dilihat. Barang-barang atau bangunan yang enggak digunakan sebagai stasiun, dipugar total. Contohnya, Lawang Sewu di Semarang yang baru kemarin diresmikan penggunaannya.

Setelah dua tahun berjalan, kami merasa perlu juga melestarikan kawasannya. Jika kawasannya kumuh, bangunan dan benda-benda tua jadi tidak terlihat indah lagi. Misalnya, Stasiun Tanjung Priok atau Stasiun Jebres di Solo. Dulu, kawasan itu biasa saja, sekarang terlihat lebih cantik dan bagus.

Cerita menarik apa saja yang ditemui selama merevitalisasi aset PT KAI?

Stasiun adalah mata sebuah kota, setiap stasiun di setiap kota pasti berbeda karena ada unsur kedaerahannya masing-masing. Misalnya, Stasiun Cirebon yang dihiasi ornamen kesultanannya. Meski yang membangun perusahaan Belanda, tetap saja ada ornamen-ornamen daerah yang diangkat.

Stasiun Tanjung Priok adalah stasiun yang sangat bagus dan bisa digolongkan sebagai mahakarya. Desainnya bagus sekali, konstruksinya sama dengan konstruksi Menara Eifel. Ketika stasiun ini direvitalisasi, ditemukan bunker rahasia yang hingga kini masih terus diteliti. Belum diketahui apa maksud dibuatnya bunker itu dan tembus ke mana terowongan itu.

Hambatan sebenarnya enggak terlalu banyak, selain urusan uang. Untuk mengatasinya, saya mencari Bapak Asuh bangunan. Bukan berbentuk uang tetapi barang, misalnya cat atau lampu. Beruntung ada beberapa orang yang sudah tertarik dan mulai bekerjasama dalam program ini, di antaranya dalam proyek revitalisasi Stasiun Tawang.

Apa yang kami lakukan ini, selain mengangkat citra PT KAI, kami juga menciptakan kegiatan-kegiatan baru. Di antaranya program wisata alam dan sejarah berbasis rel. Track yang mati, kami minta Dirjen PT KAI untuk dihidupkan kembalii dan dijadikan track wisata dengan kereta uap. Di sepanjang perjalanan, kami juga memberdayakan penduduk sekitar. Karena PT KAI hanya memiliki track , yang dijual adalah keindahan alam, masyarakat dan kebudayaan penduduk sekitar.

Lalu, program apa saja yang kini tengah dikerjakan?

Track wisata Tuntang–Ambarawa saat ini sedang dalam proses pemugaran total. Insya Allah jika tidak ada hambatan, pada 28 September 2011 jalur ini akan kembali dibuka dengan wajah baru. Tak hanya merevitalisasi stasiun atau bangunan, kami juga melakukan preservasi kereta-kereta kuno. Seperti kereta uap Jaladara di Solo yang merupakan hasil kerjasama dengan Pemerintah Kota Solo.

April kemarin kami baru saja uji coba track Sukabumi-Cianjur sejauh 180 km. Lokasinya sangat indah dan sangat cocok untuk dijadikan jalur wisata. Kami masih terus mengkaji titik-titik wisatanya dan melibatkan pemerintah daerah karena mereka yang tahu lokasi dan programnya.

Apa kepuasan yang Anda rasakan selama ini?

Belum ada. Basic saya adalah pelestarian, maka apa yang saya lakukan adalah menjaga agar tidak rusak. Mungkin rasanya seperti hubungan ibu dan anak. Saya akan sakit hati sekali jika ada bangunan tua yang dirubuhkan. Pelestarian merupakan suatu manfaat, baik secara sosial maupun ekonomi. Jika bisa diatur dengan baik, ini bisa jadi sektor ekonomi yang baru.

Sumber: Tabloid Nova

Penulis: Edwin Yusman F