Bangunan Stasiun Tanjung Priok.

Keberadaan Stasiun Tanjung Priuk tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan Pelabuhan Tanjung Priuk yang dibangun pada akhir abad ke-19 oleh Gubernur Jendral Johan Wilhelm van Lansberge. Pelabuhan Tanjung Priuk merupakan pintu gerbang kota Batavia serta Hindia Belanda menggantikan pelabuhan Sunda Kelapa yang tidak lagi memadai. Stasiun ini dibangun untuk mengakomodir perdagangan dan wisatawan Eropa di Batavia karena pada masa lalu wilayah Tanjung Priuk yang terletak di bagian utara Jakarta sebagian besar adalah hutan dan rawa-rawa yang berbahaya sehingga dibutuhkan sarana transportasi yang aman untuk menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priuk dengan kawasan pusat kota melalui Batavia Centrum (Stasiun Jakarta Kota).

Stasiun yang dibangun pada tahun 1914 pada masa Gubernur Jendral A.F.W. Idenburg (1909-1916) ini merupakan karya Ir.C.W. Koch seorang insinyur utama dari Staats Spoorwegen (SS-Perusahaan Kereta-api Negara Hindia Belanda). Dalam pembangunannya diperlukan tak kurang dari 1.700 tenaga kerja dimana 130 di antaranya pekerja dari Eropa.

Meskipun bukan merupakan stasiun pusat, stasiun Tanjung Priuk dibangun di atas tanah seluas 46.930 m2 dengan luas bangunan 3.768 m2 yang megah dan mewah. Memiliki delapan peron sehingga nyaris sebesar stasiun Jakarta Kota. Fungsinya pada masa itu tidak hanya untuk stasiun saja tetapi juga menyediakan penginapan bagi penumpang yang akan menunggu kedatangan kapal laut untuk melanjutkan perjalanan. Kamar-kamar penginapan tersebut terletak di sayap kiri bangunan yang khusus disediakan untuk penumpang Belanda dan orang Eropa, serta dilengkapi dengan ruang di bawah tanah yang diperkirakan berfungsi sebagai gudang logistik.

Stasiun Tanjung Priuk diresmikan penggunaaannya tepat pada ulang tahun ke-50 Staats Spoorwegen (SS) tanggal 6 April 1925 dan bersamaan dengan pembukaan jalur Tanjung Priuk – Beos Qakarta Kota) yang dilayani kereta dengan lokomotif listrik seri ESS 3200 (buatan Werkspoor, Belanda) serta jaringan listrik aliran atas (LAA) yang terbentang mulai dari Tanjung Priuk – Bogor, dan jalur lingkar sekitar Jakarta.

Sejak kemerdekaan Indonesia, perusahaan kereta api pemerintah Belanda diambil alih oleh pemerintah Indonesia yang pada saat itu bernama DKA (Djawatan Kereta Api). Stasiun Tanjung Priuk sempat tidak dioperasikan selama sejak Juni 1999 ketika terjadi pergantian status PT KA menjadi Persero dan baru dioperasikan kembali pada 13 April 2009. Renovasi bangunan stasiun tersebut bukan hanya untuk keperluan transportasi namun juga bertujuan melestarikan bangunan stasiun sebagai cagar budaya dan yang dapat menjadi pusat studi dan tujuan wisata sejarah. Maka dalam pemugarannya keaslian bentuk bangunan stasiun ini dipertahankan, termasuk bentuk gedung pengatur perjalanan kereta api (PPKA) atau rumah sinyal serta menggali kembali ruang bawah tanah yang sudah sempat tergenang lumpur.

Berdasarkan susunan ruangnya, Stasiun Tanjung Priuk merupakan stasiun ujung (stasiun kepala) dimana rel berakhir pada bangunan stasiun dan kedudukan sepur tegak lurus dengan concourse/peron. Bangunan stasiun yang monumental dengan delapan jalur, enam jalur di dalam peron dan dua jalur di luar peron. Bangunannya bertumpu pada ratusan tiang pancang yang memiliki atap penutup dari beton dan seng tebal. Atap peron berupa struktur baja bentang lebar dengan bentuk kuda-kuda melengkung yang menaungi ke delapan peron sekaligus.

Desain bangunan Stasiun Tanjung Priuk bersiluet simetris dengan gaya arsitektur modern awal yang dipengaruhi aliran Kubisme sehingga berbentuk simpel dan geometris. Bentuk dominan bangunan stasiun ini adalah persegi, baik bentuk keseluruhan bangunan maupun bentuk bidang-bidang bukaan, pintu – pintu dan jendela-jendelanya. Permainan garis-garis vertikal dan hori-sontal menjadi ciri ornamentasi berlanggam Art Deco yang populer pada awal abad ke-20. Garis-garis tersebut terdiri dari garis-garis moulding (list) atap yang horizontal serta lubang-lubang pada cornice (mahkota) berupa ballustrade atapnya, garis-garis vertikal kolom-kolom, dan lekukan pada dinding menyerupai jendela palsu disamping jendela-jendela sesungguhnya yang berjalusi kayu. Kaca patri dan ornamen profil keramik menghias dinding stasiun. Kesan megah diperkuat oleh kolom-kolom besar dan kokoh pada beranda utama yang didukung dengan tangga di sepanjang bangunan.

Struktur baja pada bangunan utama emplasemen memberi kesan kokoh dan megah. Area loket penjualan karcis berupa ceruk yang dipertegas dengan lapisan dinding marmer. Ruang hall diterangi cahaya yang masuk dari deretan jendela kaca.