Opening van Halte Tanggoeng bij Semarang

Opening van Halte Tanggoeng bij Semarang

OPENING van Halte Tanggoeng bij Semarang, demikian judul sebuah foto bertanggal 10 Agustus 1867. Dalam foto koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) / Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies itu, terlihat pada bagian atas halte sederhana berbahan kayu itu tertulis Halte Tangoeng sementara para meneer Belanda terlihat menantikan kereta yang segera tiba. Pembukaan halte tersebut dilakukan oleh Gubernur Jenderal LAJW Baron Sloet van Beel. Ia juga yang memerintahkan pembangunan jalan kereta api tersebut, yang mulai dikerjakan pada 17 Juni 1864.

Halte Tanggung, di Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah, kini masih berdiri. Stasiun kecil ini dalam kondisi yang masih cukup terpelihara. Meskipun, halte asli yang tampak pada foto milik KITLV itu sudah tak ada karena sudah dibongkar dan diganti dengan bangunan baru pada 1910. Kini, sebuah papan pengumuman berdiri mengawal bangunan tersebut. Papan itu antara lain bertuliskan, “Stasiun Tanggung adalah Bangunan Cagar Budaya Milik PT Kereta Api (Persero) yang Dilindungi UU Cagar Budaya No 5 Tahun 1992.”

Meski kecil, stasiun itu bermakna besar dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia. Pembukaan Halte Tanggoeng bersamaan dengan peresmian jalur kereta api pertama di Jawa, Samarang-Tanggoeng sepanjang 25 km. Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) alias Maskapai Kereta api Hindia Belanda yang membangun jalur kereta api itu, menempatkan Halte Tanggoeng sebagai halte pemberhentian kereta api dari Stasiun Samarang (Semarang). Stasiun Samarang kini sudah tak berwujud lagi karena menjadi permukiman padat.
Stasiun Tanggung memang tak lagi jadi halte akhir atau stasiun yang menaikkan dan menurunkan penumpang. Stasiun ini kini hanya menjadi stasiun pengawas keamanan perjalanan kereta api. Tanpa kereta, perjalanan dari Semarang ke Tanggung menjadi lebih lama. Jika dengan kereta hanya perlu waktu sekitar setengah jam, maka dengan kendaraan roda empat bisa memakan waktu 1,5 jam bahkan 2 jam. Seperti yang dialami rombongan Kementrian Kebudayaan Belanda dan Divisi Preservasi PT KA beberapa waktu lalu. Perjalanan dengan kendaraan roda empat terganggu padatnya jalan dan kondisi jalan yang buruk.

Dari Stasiun Tanggung, perjalanan berlanjut ke Stasiun Kedungjati. Stasiun di Kabupaten Grobogan ini dibangun beberapa tahun setelah Stasiun Tanggung. Itu terjadi setelah jalur Samarang-Tanggoeng ternyata kurang menguntungkan. JP de Bordes, pimpinan NISM, mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk melanjutkan sisa jalur sepanjang 166 km menuju Yogyakarta. Jalur Semarang-Yogyakarta lewat Solo pun kemudian berlanjut melewati Kedungjati dan Gundih, namun NISM juga harus membuat jalur cabang ke Ambarawa yang menjadi pusat militer Hindia Belanda.

Dari Samarang – Tanggoeng, jalur berlanjut ke Kedungjati. Jaraknya sekitar 9 km. Stasiun Kedungjati mulai beroperasi pada 19 Juli 1868. Kondisi stasiun ini membuat Ben de Vries, senior international policy advisor, Cultural Heritage Agency Ministry of Education, Culture, and Science – Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda – berdecak kagum. Demikian pula Homme JE Heringa dari Bureau Spoorbouwmeester – yang bertanggungjawab pada jalur kereta api di seluruh Belanda.

Terang saja, stasiun ini memang masih tampak cantik dan terawat. Stasiun ini terbilang besar dengan arsitektur yang dibuat mirip dengan Stasiun Willem I (Stasiun Ambarawa yang kini jadi Museum Kereta Api Ambarawa). Pada 1907 bangunan Stasiun Kedungjati yang semula berkonstruksi kayu diubah dengan bata berplester dengan peron berkonstruksi baja.

Sayang, jalur Semarang-Yogyakarta lewat Solo dan Ambarawa itu sempat tidak diperhatikan – khususnya yang melewati Ambarawa. Ambarawa-Bedono kini hanya jadi jalur wisata kereta api pegunungan. Untungnya, beberapa kereta api kemudian dialihkan jalurnya melewati jalur Semarang-Solo yang sempat merana. Kini jalur itu dilalui KA Pandanwangi, KA Matarmaja, KA Bangunkerta, KA Brantas dan KA barang.

Dari hasil diskusi antara pihak Belanda dan Divisi Preservasi PT KA, ada masukan untuk menghidupkan kembali jalur kereta api dan stasiun yang terabaikan. Semoga saja masukan itu perlahan bisa diwujudkan. Perjalanan dengan kereta api nantinya tak hanya sekadar sebagai sarana transportasi berpindahnya manusia dari satu kota ke kota lain tapi sekaligus juga sebagai upaya menggiatkan wisata sejarah di jalur kereta api.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *